Oleh: Mung Harsanto (Kepala KBO Babel)
Bangka Belitung - Tren global menunjukkan energi nuklir kembali memperoleh posisi strategis dalam agenda transisi energi bersih dunia. Sejumlah laporan internasional yang dikutip dari Market News Updates melalui jaringan Newswire menegaskan bahwa nuklir nol karbon dinilai krusial karena mampu menyediakan listrik skala besar secara stabil dengan emisi gas rumah kaca yang nyaris nol. Laporan World Nuclear Performance Report 2025 menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir menghasilkan rekor 2 667 TWh pada 2024, melampaui rekor sebelumnya pada 2006 dan mencerminkan peran substansial nuklir dalam menyuplai listrik bersih secara konsisten.
Dari sisi ekonomi, nilai pasar listrik nuklir global diproyeksikan berada pada kisaran USD 38–42 miliar pada 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh kombinasi kebijakan iklim, mekanisme carbon pricing, serta kontrak jangka panjang lintas negara yang memberikan kepastian bagi investasi infrastruktur energi bersih. Secara global, nuklir kini tidak lagi diposisikan sebagai pesaing energi terbarukan, melainkan sebagai penopang stabilitas jaringan listrik.
Proyeksi jangka menengah hingga jangka panjang lembaga internasional memperlihatkan momentum yang kuat. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperkirakan bahwa kapasitas listrik nuklir global dapat lebih dari dua kali lipat pada 2050 dalam high case scenario — mencapai hingga sekitar 992 GW(e) dari level 377 GW(e) pada akhir 2024 — dengan kontribusi signifikan dari small modular reactors (SMRs) sebagai bagian dari perluasan teknologi nuklir generasi terbaru.
Peningkatan permintaan listrik global turut memberi tekanan pada percepatan transisi energi. Laporan lain dari sumber kredibel menunjukkan bahwa permintaan listrik dunia diproyeksikan tumbuh sekitar 4 persen per tahun hingga 2027, didorong oleh kebutuhan di negara berkembang serta intensifikasi sektor industri dan teknologi digital seperti pusat data, kendaraan listrik, dan jaringan 5G. Nuklir dipandang sebagai energi baseload yang stabil.
Berbeda dengan energi terbarukan intermiten seperti surya dan angin, pembangkit listrik tenaga nuklir beroperasi dengan faktor kapasitas tinggi dan mampu memasok listrik baseload sepanjang waktu. Kondisi ini membuat nuklir semakin dipandang sebagai pelengkap penting dalam sistem kelistrikan modern, khususnya di tengah meningkatnya elektrifikasi industri, pusat data, dan target net zero emissions.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, dunia juga menyaksikan meningkatnya perhatian terhadap teknologi reaktor generasi lanjut dan modular. Pendekatan ini bertujuan menekan biaya konstruksi, meningkatkan keselamatan, serta mempercepat waktu pembangunan, isu yang selama ini menjadi tantangan utama sektor nuklir.
Diantara perusahaan pengembang teknologi PLTN generasi maju, Thorcon hadir sebagai bagian dari diskursus solusi energi nuklir generasi baru. Teknologi molten salt reactor yang dikembangkan Thorcon mengusung prinsip keselamatan pasif, tekanan operasi rendah, dan desain modular, selaras dengan arah pengembangan nuklir global saat ini. Di Indonesia, Thorcon Power Indonesia memposisikan diri sebagai mitra jangka panjang yang mengikuti dinamika kebijakan dan kebutuhan energi nasional, dengan pendekatan yang bertahap dan berbasis praktik internasional.
Ke depan, berbagai analis menilai kebangkitan energi nuklir bukanlah fenomena sementara, melainkan respons struktural terhadap kebutuhan dunia akan energi bersih yang andal, aman, dan berkelanjutan. Dalam lanskap tersebut, teknologi dan penyedia solusi seperti ThorCon menjadi bagian dari upaya kolektif global untuk memastikan transisi energi berjalan tanpa mengorbankan keandalan pasokan listrik. (Red)
Baca Juga
Tags:
Berita

